Masa-masa Yang Semakin Buruk Dengan Wafatnya Para Ulama Besar

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Hadits Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasalam, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

 Sungguh para ‘ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah subhanahu wata’ala. Sangat banyak pujian dan sanjungan terhadap mereka dalam Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah :

“Hanyalah yang memiliki khasy-yah (takut) kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama.” [Fathir : 28]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, yang intinya bahwa  khasy-yah (rasa takut) yang benar terhadap-Nya hanya dimiliki para ‘ulama yang mengenal Allah dengan baik melalui ilmu yang mereka pelajari.  Karena dengan ma’rifah (mengenal) Allah dengan ilmu yang semakin sempurna dan lengkap, maka makin bertambah besar pula khasy-yah (rasa takutnya) terhadap-Nya sebagai Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Berilmu, yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan nama-nama yang indah.

Asy-Syaikh Al-Mufassir ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya : “Maka setiap orang yang makin berilmu tentang Allah, maka dia akan semakin besar sifat khasy-yah (takut) terhadap-Nya. Maka sifat khasy-yah tersebut mendorongnya untuk menjauh dari segala kemaksiatan, dan sebaliknya mendorongnya untuk bersiap-siap menyongsong pertemuan dengan Dzat yang ia takut terhadap-Nya. Ini merupakan dalil atas keutamaan ilmu. Sesungguhnya ilmu mengantarkan untuk khasy-yah (takut) terhadap Allah. Seorang yang memiliki sifat khasy-yah terhadap-Nya adalah orang yang berhak mendapat kemuliaan dari-Nya. Sebagaimana firman-Nya : “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang khasy-yah (takut) kepada Rabbnya.” [Al-Bayyinah : 8]

Sungguh para ‘ulama merupakan pelita bagi umat. Keberadaan mereka sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan umat ini ke jalan hidayah, dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para generasi as-salafush shalih. Mereka adalah orang-orang terpercaya, pewaris para Nabi, yang mengemban tugas besar menjaga agama ini dari berbagai penyelewengan dan penyimpangan. Sungguh kepergian mereka merupakan musibah besar bagi umat ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

Innalillah wa inna ilaihi raji’un. Setelah beberapa waktu lalu, kaum muslimin kehilangan tiga ‘ulama besar -dalam waktu yang tidak begitu lama- yaitu : Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, kemudian Samahatusy Syaikh Al-’Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah, menyusul kemudian Fadhilatusy Syaikh Faqihul ‘Ashr Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

Sungguh umat ini terpukul berat dan sangat merasa kehilangan atas meninggalnya para ‘ulama tersebut. Karena meninggalnya mereka berarti hilangnya ilmu. Belum hilang kesedihan mereka, tak lama kemudian menyusul meninggal pula ‘Allamatul Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

Berikutnya kaum muslimin kembali kehilangan seorang ‘alim besar pada masa ini, wafat pula seorang ‘ulama besar, seorang mujahid pembawa bendera as-sunnah pada masa ini, Asy-Syaikh Al-’Allamah Ahmad Bin Yahya An-Najmi rahimahullah rahmatan wasi’atan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, merahmati beliau, dan meninggikan kedudukan beliau, serta memasukkan beliau ke jannah-Nya. Allahul Musta’an wa ilaihil Musytaka.

INNALILLAH WA INNA ILAIHI RAJI’UN …

“yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn” [Al-Baqarah : 156]

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” [At-Taubah : 56]

Maka kita mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ketika wafatnya putra beliau :

“Air mata berlinang,

Hati pun bersedih,

Namun kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami

Demi Allah, wahai Ibrahim, kami sangat bersedih dengan (kepergian)mu “

[HR. Al-Bukhari (1303) Muslim (2315) ]

                      

Ya Allah, … Rahmatilah para ‘ulama ahlus sunnah. Tempatkanlah mereka di jannah-Mu yang tinggi, bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin.

Al-Imam ‘Aun bin ‘Abdillah berkata : “Barangsiapa yang meninggal di atas Islam dan Sunnah, sungguh baginya berita gembira dengan segala kebaikan.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (60)).

Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh juga mengatakan : “Sungguh beruntung bagi barangsiapa yang meninggal di atas Islam dan Sunnah.”

Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani mengatakan : “Sungguh ketika sampai kepadaku (berita) kematian seorang dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan hilanglah satu anggota tubuhku.”

Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata : “Tidak akan datang suatu masa atas kalian melainkan masa yang akan datang tersebut lebih buruk daripada masa sebelumnya hingga datangnya Hari Kiamat. Maksud saya bukanlah kelapangan hidup yang diterimanya atau harta yang didapatnya (lebih sedikit). Akan tetapi maksud saya adalah masa yang akan datang itu lebih sedikit ilmunya daripada masa yang telah berlalu. Apabila ‘ulama telah pergi dan semua manusia merasa sama rata, akibatnya tidak ada lagi yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari munkar. Saat itulah mereka binasa.”

Diriwayatkan dari jalur Asy-Sya’bi, dari Masruq dari Ibnu Mas’ud, bahwa beliau berkata : “Tidaklah datang suatu masa melainkan pasti lebih buruk daripada masa sebelumnya. Maksud saya bukanlah seorang amir lebih baik daripada amir lainnya, bukan pula suatu tahun lebih baik daripada tahun lainnya. Namun maksud saya adalah perginya para ‘ulama dan ahli fiqh, kemudian kalian tidak menemukan penggantinya. Lalu datanglah suatu kaum yang berfatwa atas dasar logika mereka.” [Fathul Bari, syarh hadits no. 7068]

Diriwayatkan dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata : “Para ‘ulama Salaf mengatakan : “Kematian seorang ‘ulama adalah cela dalam tubuh Islam. Tidak mungkin ditambal dengan apapun sepanjang zaman.” [Ad-Darimi (324)]

Diriwayatkan dari Hilal bin Khabbab rahimahullah, dia berkata : Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair : “Wahai Abu Abdillah, apakah tanda kehancuran manusia?” Beliau menjawab : “Apabila ‘ulama-’ulama mereka telah wafat.” [Ad-Darimi (251)]

Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingatkan dan menasehatkan :

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.” [lihat Al-’Imu Ibnu Qayyim, no. 94].

 

(Disadur/diringkas dari tulisan lengkap karya  Al Akh Abu ‘Amr Ahmad Alfian. Sumber lengkap : http://www.assalafy.org/mahad/?p=210)

1 Komentar»

  abi neesa wrote @

Selamat jalan Ibuku tercinta… Hari ini merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan dalam perjalanan hidup kami. Ya..kami sekeluarga telah Kehilangan ibu kami tercinta,(ibu Masrifah Sochib),tepat menjelang suara adzan subuh, berkumandang, ibu kami menghadap Sang pencipta, Sempurna sudah tugasmu sebagai Ibu, sejujurnya kami masih menginginkan belaian kasih sayangmu selama-lamanya, tapi kami mengerti ternyata Alloh lebih menyayangimu, meskipun pahit, kami sekeluarga mencoba ikhlas dan tegar dalam menjalani ujian ini. Terimakasih ibuku tersayang, atas semua pelajaran kehidupan yang telah engkau berikan kepadaku.
…..
Ibuku adalah madrasah pertamaku, guru pertamaku, bahkan sejak diriku masih di kandungan, kaulah yang tak pernah lelah mengajarkan aku tentang aqidah yang bersih, bagaimana ibadah yang benar,serta menjadi pribadi yang berahlaq mulia, kaulah yang membimbingku akan pentingnya arti menuntut ilmu (syar’i), dan menjadikan anak-anakmu seorang pejuang ilmu, serta menjadi pribadi yang haus akan ilmu, karena dengan ilmu kau bisa beramal dengan benar, dengan ilmu kau dapat berfikir dengan ilmiah dan beramal Islamiah, dengan ilmu kau dapat membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang sunnah mana yang bid’ah, dengan ilmu kau bisa menggapai dunia sekaligus merengkuh akhirat. Ibuku tercinta, Kaulah yang selalu mengingatkanku tuk selalu membaca ayat-ayat cintaNya dikala senang maupun susah, karena dengan membacanya, setiap gerak langkah yang kau kerjakan sesuai dengan aturan syariatNya, kaulah yang selalu menginginkanku menjadi generasi pecinta sunnah,agar setiap aktivitas sesuai dengan tuntunan rosululloh, kaulah yang menasehatiku tuk selalu bersimpuh sujud di kehingan malam seraya berdoa tanpa berputus asa mengharap curahan kasih sayangNya, kaulah yang mengajarkan aku untuk selalu berbagi rezeki bagi yang membutuhkan, Ketika ku sedang lemah kaulah yang menguatkan jiwaku, ketika ku sedang sedih dan gundah, kaulah yang mencerah hatiku, ketika aku sakit kaulah yang pertama merasakan rasa sakitku, masih segar dalam ingatanku ketika aku sakit kau menangis dan megharap kesembuhan atas sakitku, bahkan sejujurnya perasaan tangismu dan luapan kasih sayangmu itu tidak sebanding dengan rasa sakitku yang sesungguhnya. Maafkan kami Ibu, jikalau kami belum mampu membahagiakanmu, sebanding kebahagiaan yang telah engkau curahkan kepadaku, maafkanlah kami ibu jika anakmu ini belum sempurna dalam berbakti kepadamu, sungguh aku tidak akan pernah mampu membalas kebaikanmu,..tidak akan pernah tergantikan, walaupun aku kerahkan semua kebaikanku untuk membalasmu (tidak akan pernah, walupun sedikit),tapi yakinlah ibu, mulai hari ini, mulai detik ini ku kan berusaha menjadi anak birrul walidain, anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tua, miskipun keberadaanmu tidak lagi disampingku lagi. Ku ingin buktikan bahwa pengorbanmu dalam mendidikku, perjuanganmu dalam mendewasakanku, tidak akan pernah sia-sia, ku berjanji dalam hati ku akan selalu mendoakanmu sepanjang hidupku, karena hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu. “Robbi firli waliwalidaya warham huma kama robayani soghiro, Ya Alloh ampunilah dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyanyangi kami sewaktu kecil. “Allohummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha…allohumma laa tahrimna ajraha walaa taftinna ba’dana waqfirlana walaha.” Selamat jalan Ibuku tercinta, walau jasadmu telah terkubur,walau sentuhan fisik kasih sayangmu tidak bersamaku lagi, tapi kenangan bersamamu tidak akan pernah terkubur, rasa cintamu tidak akan pernah terlupakan, kebaikanmu akan selalu kuingat, nasehat dan keteladanmu akan selalu ku jadikan panutan. Salam sejahtera Ibuku tercinta, Semoga Alloh,menerima arwahmu di sisiNya, mengampuni segala khilaf dan dosa, menerima segala amal baikmu dan menjadikanmu penghuni surga dan suatu saat nanti,..anakmu akan menyusulmu dan berkumpul kembali di surgaNya…Amin Dari anakmu : Abi Neesa Fathiya.(buat pembaca, mohon doanya ya buat ibuku, Jazakallah kheir)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s