Penyimpangan Akidah Berpotensi Membatalkan Keislaman Seorang Muslim

Bagi seorang muslim, keharusan memiliki akidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan akidah yang benar seperti kepala bagi jasad. Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal perbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Kerusakan terbesar yang menodai kesucian fitrah setiap insan adalah penyimpangan di dalam akidah. Kerusakan inilah yang menjadi tujuan akhir dari setiap gerakan setan, yang berlayar dan berlabuh di atas kesucian fitrah manusia dengan senjata yang sulit tertandingi kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat dan taufik serta hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.

Dua senjata ampuh setan dalam merusak fitrah manusia adalah syubhat dan syahwat.

Dengan syubhat yang disebarkan setan, sesuatu yang haq bisa menjadi samar-samar bahkan menjadi batil dan sebaliknya yang batil bisa menjadi haq dalam pandangan orang yang terfitnah (menyimpang). Dengan syubhatnya pula, tauhid bisa menjadi syirik dan sebaliknya syirik bisa menjadi tauhid. Pun dengan syubhatnya, sunnah bisa menjadi bid’ah dan bid’ah bisa menjadi sunnah, demikian seterusnya.

Adapun syahwat, maka dengannya semua keharaman akan mudah dilakukan serta menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mendatangkan kepuasan hidup; berzina, berjudi, minum khamr, membunuh, mencaci-maki, menyakiti, berbuat sihir, mencuri, dan segala bentuk keharaman lainnya.

Bila umat berkubang dalam kerusakan fitrah dan akidah, maka tidak ada penyebabnya selain syubhat dan syahwat. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mengatakan di dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala memberikan pelajaran besar bahwa untuk mematahkan kedua senjata iblis tersebut adalah dengan cara mempelajari ilmu agama dan bersabar. Dengan ilmu, akan terpatahkan segala wujud dan bahaya syubhat, serta dengan kesabaran akan bisa terpadamkan kobaran api syahwat.

Akidah yang Benar

Akidah yang benar adalah akidah yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wassalam. Akidah inilah yang menjadi fondasi Islam dan yang menjadi asas diterimanya seluruh amalan.

Telah jelas dengan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa amalan-amalan serta semua ucapan akan sah diterima apabila muncul dari akidah yang benar. Apabila akidah tersebut batil maka batal pula seluruh amalan dan ucapan yang dibangun di atasnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

“Barang siapa yang mengingkari keimanan maka sungguh telah terhapus amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (al-Maidah: 5)

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu (bahwa) jika kamu menyekutukan Allah niscaya benar-benar amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa akidah yang benar adalah akidah yang terhimpun dan terangkum di dalam rukun iman yaitu beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir Allah Subhanahu wata’ala yang baik ataupun buruk. Perkara yang enam ini merupakan prinsip-prinsip dasar akidah yang benar, yang karenanya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan Al-Qur’an dan Allah Subhanahu wata’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. (al-‘Aqidah ash-Shahihah, hlm. 3)

 

Akidah yang Rusak

Akidah yang rusak adalah lawan akidah sahihah. Yaitu akidah yang terambil dari peninggalan nenek moyang (taklid), dari fanatisme golongan, jamaah, atau individu, dan yang terambil dari akal. Tentang akidah yang rusak ini, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan di dalam firman-Nya:

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata, ‘Apakah kamu akan mengikuti mereka, sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (az-Zukhruf: 23—24)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir), ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah!’ Mereka mengatakan, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)

“Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dulu’.” (al-Qashash: 36)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah  Allah oleh kalian, (karena) sekali-kali tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).’ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat, belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dahulu. Ia tidak lain hanyalah seseorang lelaki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu’.” (al-Mu’minun: 23—25)

“Mereka menjadikan orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa.” (at-Taubah: 31)

Ayat-ayat di atas menjelaskan corak akidah batil yang diambil dari ajaran nenek moyang, ajaran individu, atau kelompoknya. Ayat-ayat di atas juga menjelaskan corak kehidupan jahiliah yang melilit leher-leher mereka dengan belenggu taklid. Juga corak kehidupan Yahudi dan Nasrani yang dikungkung dalam penjara ghuluw (sikap berlebihan) dalam menyikapi tokoh-tokoh mereka.

Oleh karena itu, mereka terus-menerus berlayar di lautan kebodohan dengan perahu tanpa nakhoda. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t dalam kitab Masa’il al-Jahiliah mengatakan, “Sesungguhnya keyakinan (agama) mereka dibangun di atas prinsip-prinsip dasar yang paling besar yaitu taklid (mengekor), dan ini merupakan kaidah besar pada seluruh agama kekafiran yang dulu ataupun yang terakhir.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan bahwa orang-orang yang menyelisihi akidah yang benar dan terus berjalan dalam memeranginya jumlahnya banyak sekali.

Pertama, para penyembah patung, berhala, malaikat, wali-wali, jin, pohon-pohon, batu-batu, dan lain sebagainya.

Kedua, orang-orang yang berakidah ilhad (ingkar/menyeleweng) di masa sekarang ini, yang mereka adalah pengikut Marxis dan Lenin serta penyeru-penyeru ilhad dan kufur selain mereka, apa pun istilah mereka; kapitalisme, komunisme, ba’tsiyyah (sosialisme), dan sebagainya. Karena konsep dasar mereka adalah tidak ada Tuhan dan bahwa kehidupan itu hanyalah materi. Termasuk prinsip dasar mereka adalah ingkar kepada hari akhir, ingkar kepada surga, neraka, dan seluruh agama.

Ketiga, apa-apa yang diyakini oleh sebagian aliran kebatinan atau sebagian orang-orang sufi bahwa di antara tokoh atau wali-wali mereka ada yang berkedudukan seperti Allah Subhanahu wata’ala dalam pengaturan alam ini dan mereka namakan dengan aqthab, autad, aqwas, dan sebagainya. (disarikan dari al-‘Akidah ash-Shahihah secara ringkas, hlm. 20 dan seterusnya)

Bahaya Kerusakan Akidah

Bahaya kerusakan akidah bersifat laten baik terhadap individu, jamaah, maupun umat di dunia dan di akhirat. Di antara bahaya-bahayanya adalah:

a)    Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap akidah yang benar yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan dibawa oleh Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam.

b)    Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme akal, dan sebagainya daripada ketentuan-ketentuan syariat tersebut.

c)    Mengakibatkan kehinaan, keterbelakangan, dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat.

d)    Memecah-belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta kemenangan demi kemenangan yang telah mereka raih.

e)    Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah Subhanahu wata’ala.

f)    Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (dinukil secara makna dari al-‘Akidah al-Islamiyyah, hlm. 22 dan seterusnya).

 

Seruan Allah Subhanahu wata’ala kepada Umat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 3)

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 116)

“Katakanlah, ‘Wahai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maidah: 77)

Wallahu a’lam.

Sumber :  Diringkas dari tulisan yang berjudul “Bahaya Laten Penyimpangan Akidah”, ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman (untuk melihat tulisan selengkapnya silahkan klik di  http://www.asysyariah.com/syariah/akidah/684-bahaya-laten-penyimpangan-akidah-akidah-edisi-5.html )

Sumber Bacaan:

Al-Qur’an Al-Karim

Shahih al-Bukhari

Shahih Muslim

Riyadhush Shalihin

Tafsir as-Sa’di

Syarah Masa’il al-Jahiliah

al-‘Aqidah ash-Shahihah

al-’Aqidah al-Islamiyyah

Lum’atul I’tiqad, dll.

1 Komentar»

  Khamdi wrote @

Semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang rugi.amin.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s