Arsip untuk Kebun06 : KEUTAMAAN AQIDAH & TAUHID

Awal Permusuhan Iblis Kepada Manusia

Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Baca entri selengkapnya »

12 Tempat Yang Paling Disukai Para Syaithan

Ada beberapa tempat yang disukai para syaitan dimana mereka banyak berada disana. Dengan memahami hal ini semoga kita bisa menghindarinya dan tidak menjadikan rumah kita sebagai salah satu tempat yang digemari syaithan.

Syaithan mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk menakutkan (seperti misalnya hantu, red), mereka bisa juga hadir sebagai penggoda yang mengotori hati manusia, kemudian menjauhkan manusia dari agamanya.

Berikut ini beberapa diantaranya dikutip dari tulisan Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam.

Baca entri selengkapnya »

6 Cara Syaithan Menggoda Manusia

“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighosatul Lahfan menjelaskan : “Jalan yang dilalui oleh insan ada empat, (tidak lebih) ia terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya“.

Baca entri selengkapnya »

Pintu Masuk Setan, dan Senjata Untuk Melawannya

Sesungguhnya Allah telah menjadikan setan sebagai musuh bagi para Nabi dan kaum mukminin. Allah berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”(Al-An’am: 112)

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Baca entri selengkapnya »

11 Alasan Pentingnya Mengenal Sifat-sifat Allah (Al-Asma` Al-Husna)

Mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya.

Keutamaan dan keagungan perihal mendalami ilmu Al-Asma` Al-Husna akan lebih jelas dengan memperhatikan beberapa keterangan berikut.

Baca entri selengkapnya »

Mengenal Tuhan Kita

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Allah ta’ala (Yang Maha Tinggi) berfirman,

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik).” (QS. Thoha: 8 )

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24)

Baca entri selengkapnya »

Jangan Bersedih Bila Umat Islam Belum Maju Dalam Perkara Dunia

Berkata Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]

Jangan Tertipu dengan Kemajuan kaum kafir, dan Bersedih atas Kemunduran Kaum Muslimin dalam Perkara Keduniaan

Baca entri selengkapnya »

Apakah Syiah itu Termasuk Islam ?

Sehubungan dengan terjadinya penyerangan kaum Syiah yang membombardir  Madrasah Ahlus Sunnah di Dammaj (Yaman) sejak Oktober 2011 (beberapa santri dari Indonesia dan Malaysia wafat), selain rasa terkejut juga telah muncul berbagai pandangan berbeda dari umat Islam sendiri di berbagai negeri.  Salah satu pandangan yang sering terungkap adalah komentar yang menyayangkan terjadinya konflik tersebut sebagai perpecahan diantara umat Islam sendiri.  Ini perlu diluruskan, karena konflik ini sudah berumur ribuan tahun.

Sebagian umat Islam tidak meneliti secara ilmiah, bahkan terhanyut pada pendapat kaum liberal yang melontarkan pendapat yang terlihat logis,  “Mengapa harus terjadi perselisihan sesama umat Islam? Ayolah kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya di atas yang Syi’i dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”

Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…

Baca entri selengkapnya »

Jangan Cepat Merasa Aman Dari Petaka Akhirat

 

Siapakah yang bisa menjamin masing-masing diri kita bakal selamat dari adzab kubur hingga adzab neraka? Sementara orang lain yang jauh lebih mulia dan utama dari kita masih merasakan tidak aman, masih ada rasa khawatir terkotori kesyirikan, ternodai nifak di akhir hidup mereka. Tentu, semestinya kita lebih merasa terusik lagi, lebih merasa tidak aman dan lebih khawatir terpelanting ke dalam lembah syirik dan nifak. Di tengah akhir zaman ini, kala banyak manusia terpagut kemelut hidup, budaya syahwat (hawa nafsu) dan syubuhat (keraguan pemikiran) setiap saat berkelebat. Sedangkan tipuan dunia begitu menyilaukan. Karenanya, memohonlah setiap saat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan diri ini di atas jalan-Nya. Hati manusia ada di antara dua jari-jemari Ar-Rahman.

Baca entri selengkapnya »

Bahaya Besar Syirik (1) : Lebih Berbahaya Dari Segala Jenis Masalah Dunia dan Kemanusiaan Sepanjang Abad

Benar bahwa ummat Islam menghadapi masalah-masalah yang multi kompleks, mulai dari masalah politik, ekonomi, pemerintahan, bahkan sampai pada penindasan kaum muslimin pada sebagian negeri Islam oleh orang-orang kafir. Akan tetapi kalau kita mau memahami agama yang mulia ini berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, maka tahulah kita bahwa problematika ummat yang sesungguhnya jauh lebih besar dari itu semua adalah permasalahan aqidah tauhid.

Hal ini karena tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus ditunaikan, melebihi hak-haknya makhluq. Sungguh ironi ketika kita berteriak-teriak membela hak-hak makhluq yang terampas, pada saat yang sama kita mendiamkan kesyirikan di depan mata kita.

Demikian pula, jika aqidah tauhid ini tercemari dengan kotoran-kotoran syirik dan noda-noda kekufuran maka bahaya yang mengancam ummat Islam, bahkan seluruh ummat manusia, tidak saja di dunia ini tetapi sampai di akhirat kelak, yaitu kekal dalam neraka. Bahkan syirik adalah sebab utama seluruh masalah ummat manusia di dunia dan akhirat.

  Baca entri selengkapnya »

Bahaya Besar Syirik (2) : Memahami Makna Syirik, Antara Syirik Besar dan Syirik Kecil

 

Para Ulama telah membagi kesyirikan menjadi dua, yaitu syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asgar).  Syirik besar adalah seorang yang mengadakan tandingan bagi Allah Ta’ala dalam perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ was shifat (lihat Ma’arijul Qobul, 2/483, Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1/516).

Perbedaan syirik besar dan syirik kecil penting untuk dipahami karena masing-masing dari kedua bentuk syirik ini memiliki hukum dan konsekuensi tersendiri.

Baca entri selengkapnya »

Bahaya Besar Syirik (3) : Syirik Sebagai Dosa Terbesar dan Ancaman (Kemarahan) Allah Terhadap Pelaku Syirik

  

Adapun diantara bahaya perbuatan syirik adalah sebagai berikut:

Pertama: Syirik adalah dosa dan kezhaliman terbesar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata pada anaknya saat ia memberi pelajaran padanya, “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan-Nya adalah kezhaliman yang besar”.” (Luqman: 13)

  Baca entri selengkapnya »

Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (1) : Berdoa, Bernadzar dan Menyembelih Hewan Untuk Selain Allah

  

Syirik dalam uluhiyah atau ibadah adalah mempersembahkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala, baik ibadah yang zhahir maupun ibadah hati (batin). Inilah kesyirikan yang paling banyak tersebar di masyarakat. Macamnya pun sangat beragam, sebanyak bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Maka berikut ini kami akan memberikan sebagian contoh dari macam-macam syirik kepada Allah Ta’ala dalam ibadah.

  Baca entri selengkapnya »

Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (2) : Cinta, Takut, Harapan, Tawakal dan Taat Kepada Selain Allah

Cinta Kepada Selain Allah

Fenomena syirik dalam cinta telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an:

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Cinta kepada Allah Ta’ala ada empat tingkatan:

  Baca entri selengkapnya »

Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (3) : Syirik Dalam Niat Karena Riya’ dan Sum’ah

Riya’ adalah seorang yang memperlihatkan ibadahnya kepada orang lain demi mendapat pujian. Termasuk juga dalam makna ini adalah sum’ah, yakni seorang memperdengarkan atau menceritakan amalannya kepada orang lain demi mendapat pujian.

  Baca entri selengkapnya »

Bentuk Syirik di Sekitar Kita (4) : Syirik dalam Niat Beramal karena dunia

 

Bentuk yang kedua dari syirik dalam niat adalah seorang yang beribadah karena dunia, seperti karena harta, pangkat, status sosial, wanita, kehormatan, dan lain-lain.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan salah satu bab dalam Kitabut Tauhid, “Termasuk kesyirikan, seorang yang beramal karena dunia”, kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala:

  Baca entri selengkapnya »

Contoh-contoh Perbuatan Syirik dan Bid’ah

 

Inilah beberapa contoh perbuatan/ibadah yang berpengaruh terhadap Aqidah Islam seorang muslim. 

Semoga ini bisa membantu kita memahami contoh-contoh perbuatan Syirik dan Bid’ah yang mungkin kita temui dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita.  Barangsiapa menempuh jalan lain (syirik dan bid’ah), atau menyangka bahwa amalan ibadahnya akan dibalas dengan kenikmatan jannah (surga) meskipun tanpa menuntut ilmu, maka akan sia-sialah ibadahnya meskipun dengan susah-payah dia menjalaninya. Bahkan dia akan menjadi orang yang merugi karena sia-sia amalannya. Dirinya menyangka telah banyak beramal, padahal apa yang dilakukan adalah amalan bid’ah yang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan yang dilakukan adalah perbuatan syirik yang akan menjadi sebab gugurnya seluruh amal ibadah yang telah dilakukannya.

Baca entri selengkapnya »

Gangguan Jin ‘Penunggu’ dan Cara Mengatasinya

 

Keangkeran suatu tempat bukan karena adanya kuburan atau makam tertentu, bukan pula karena ada arwah penasaran yang meninggal secara tidak wajar di tempat tersebut, semua itu hanyalah tipu daya setan untuk menyesatkan manusia. Minimalnya, jika seseorang telah berkeyakinan bahwa orang yang sudah mati ruhnya dapat bergentayangan lagi di dunia dan bisa memberi manfaat atau menimpakan bahaya maka aqidah tauhidnya sesungguhnya telah rusak, sebab telah jelas dalam dalil-dalil syari’at (Al Qur’an dan As-Sunnah) bahwa ruh yang sudah meninggal dunia hanya memiliki dua keadaan (di alam barzakh), antara apakah ia mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur. Demikian pula, orang yang sudah mati tidak dapat memberi manfaat dan menimpakan bahaya kepada makhluk hidup.

Dibawah ini disampaikan sebuah tulisan mengenai makna /hakikat Gangguan Jin berupa tempat angker atau ‘makhluk penunggu/hantu’, dan Cara Menghadapi / Menolak Gangguan Jin semacam ini.

Baca entri selengkapnya »

Berkembangnya Kesyirikan Dan Penyimpangan Akidah, Penyebab Terhalangnya Keberkahan, Kedamaian dan Ketentraman Suatu Negeri

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu muslihat. Ketika itu, si pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang amanah dianggap khianat, dan Ruwaibidhah akan tampil bicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah?” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab, “Seorang dungu yang berbicara tentang masalah umat.” (HR. Ahmad dalam “Musnad”nya, juz: 3 hal. 220, no. 13322), red)

Baca entri selengkapnya »

Penyimpangan Akidah Berpotensi Membatalkan Keislaman Seorang Muslim

Bagi seorang muslim, keharusan memiliki akidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan akidah yang benar seperti kepala bagi jasad. Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal perbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Kerusakan terbesar yang menodai kesucian fitrah setiap insan adalah penyimpangan di dalam akidah. Kerusakan inilah yang menjadi tujuan akhir dari setiap gerakan setan, yang berlayar dan berlabuh di atas kesucian fitrah manusia dengan senjata yang sulit tertandingi kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat dan taufik serta hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.

Dua senjata ampuh setan dalam merusak fitrah manusia adalah syubhat dan syahwat.

Baca entri selengkapnya »

Takutlah Hanya Pada Allah

Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sifat ini akan menjaga pemiliknya untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya.

Menelusuri kehidupan untuk mencari kebahagiaan yang hakiki sungguh sangat sulit. Kita harus melalui pertarungan-pertarungan yang sengit, jalan-jalan yang terjal dan berjurang penuh dengan duri. Jika salah langkah, hanya akan didapati dua kemungkinan dan tidak ada kemungkinan yang ketiga. Pertama, akan menjadi orang yang terselamatkan sehingga selamat (dunia akhirat) dan kedua, menjadi orang yang binasa dan celaka.

Baca entri selengkapnya »

Penyebab Hilangnya Ketaatan dan Melunturnya Sikap Istiqomah

Syaithan adalah musuh besar manusia, yang memiliki target utama menjerumuskan sebanyak mungkin manusia ke lembah kebinasaan, keluar dari jalan istiqamah menuju jalan kesesatan. (Istiqomah berarti tetap teguh dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla’, red). Di masa sekarang, jalan-jalan kesesatan hasil propaganda syaithan telah demikian marak, menjerat siapa saja yang lengah dan kurang peduli terhadap seruan agamanya. Untuk menangkal dan memperbaiki keadaan itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada semua yang telah membuat baik generasi awal umat ini.

Setiap manusia diciptakan Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan memiliki pembisik jahat yang memiliki target berbahaya. Bila manusia tersebut salah melangkah maka akan menjadi mangsa si pembisik yang jahat itu.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (1) : Tauhid Adalah Fitrah Manusia

Merupakan suatu perkara yang tidak bisa disangkal, bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Yang mengingkari hal tersebut hanyalah segelintir orang. Itu pun karena mereka tidak menggunakan akal sesuai dengan fungsinya. Sebab akal yang sehat akan mengetahui bahwa setiap yang tampak di alam ini pasti ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur dengan sangat rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur. Tidak ada yang mengingkari perkara ini kecuali orang yang tidak berakal atau sombong dan tidak mau menggunakan pikiran sehat. Mereka tidaklah bisa dijadikan tempat berpijak dalam menilai.

Orang Kafirpun Mengakui Adanya Allah Maha Pencipta

Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta`ala.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (2) : Pudarnya Tauhid adalah Penyebab Perselisihan Manusia

Mulai masa Nabi Adam `alaihis-salam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu. maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Al-BaQaroh: 213)

Kesyirikan telah merusak sendi-sendi tauhid, dan kesyirikan mulai muncul pada masa kaum Nabi Nuh `alaihis-salam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh `alaihis-salam sebagai rasul yang pertama.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (3) : Tauhid, Hak Allah atas Segenap Manusia

Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzaariyaat: 56)

Sebagian ulama menafsirkan kalimat:  “supaya menyembah-Ku”  dengan makna:  “supaya mentauhidkan-Ku”    (Lihat Al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)

Jika peribadahan kepada Allah tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (4) : Menggapai Keutamaan Tauhid

 

Dalam tulisan yang lalu telah dijelaskan tentang keharusan manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa berbuat syirik sedikit pun. Itulah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah. Seorang muslim adalah yang mengamalkan tauhid uluhiyyah setelah mengakui tauhid rububiyyah. Sehingga tauhid ini menjadi tema pembahasan kita.

Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid. Sebab tauhid merupakan inti ajaran agama samawi. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasannya tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku.” (Al-Anbiyaa`: 25)

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (5) : Memurnikan Tauhid akan Memudahkan Jalan Ke Surga

 

Tentu setiap muslim berkeinginan masuk surga disamping selamat dari adzab Allah. Masuk surga merupakan perkara yang sangat mereka idamkan. Surga adalah tempat kesudahan yang baik bagi mereka. Syarat memasukinya adalah dengan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tauhid sangat berpengaruh dalam menentukan nasib seorang muslim guna menggapai keutamaan ini. Pelaksanaan tauhid secara murni dan tidak berbuat syirik sama sekali dapat memudahkan jalan menuju surga tanpa penghalang. Maka tingkat keberhasilan ini diukur dengan nilai tauhid yang telah dicapai oleh masing-masing personil dalam menjalaninya.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (6) : Beberapa Keutamaan Bagi Orang Yang Mengamalkan Ibadah Yang Tauhid

 

Selain keutamaan tauhid yang telah kita utarakan dalam pembahasan lalu masih terdapat keutamaan tauhid yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh, marilah kita menyimak hadits-hadits berikut ini,

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bahwasanya Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada anaknya saat akan wafat ‘Aku perintahkan engkau (berpegang) dengan laa ilaaha illallah. Karena langit yang tujuh dan bumi yang tujuh jika diletakan pada satu anak timbangan dan La ilaaha illallah pada satu anak timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada yang lainnya. Dan jika langit yang tujuh beserta bumi yang tujuh membentuk lingkaran yang tak diketahui tempat sambungannya, niscaya Laa ilaaha illallah akan memutuskannya’.” (HR.Ahmad dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya dalam As-Shahihah 1 / 210. Lihat takhrij Fathul Majid karya Asy-syaikh ‘Ali Sinan hal. 68)

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (7) : Merealisasikan Tauhid

Pembahasan ini merupakan tema yang cukup menarik bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya orang yang beriman ingin membuktikan keimanannya. Dengan demikian dia dinobatkan sebagai seorang mu’min sejati. Tidak ada jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini melainkan dengan merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.

Merealisasikan tauhid secara sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari campuran syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Peribadahan yang dilakukan harus terbebas pula dari kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus menerus. Maka seorang yang berkemauan untuk merealisasikan tauhid secara sempurna harus memenuhi kriteria sebagaimana yang diutarakan tadi.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Tauhid (8) : Kriteria Orang-orang Yang Bertauhid

 

Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim,

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. “ (Al-Mu’minun:57-61)

Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.

Baca entri selengkapnya »

8 Syarat Untuk Menyempurnakan Kesaksian “Laa ilaaha illallah”

Kalimat tauhid mempunyai keutamaan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikatakan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah “Laa ilaaha illallah” maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat Lailaha ilallah. Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barang-sapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.

Baca entri selengkapnya »

Al-Khabiir, Allah Yang Maha Mengetahui

 

Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Al-Khabiir (الْخَبِيْرُ). Artinya secara ringkas adalah Yang Maha Mengetahui. Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya:

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Al-An’am: 73)

  Baca entri selengkapnya »

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”

Kedua nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, diantaranya:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)

Baca entri selengkapnya »

At-Tawwab, Allah Yang Maha Penerima Taubat

Allah Subhanahu Wata’ala menamai diri-Nya dengan nama At-Tawwab dansebutkan nama-Nya ini dalam ayat-Nya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)

  Baca entri selengkapnya »

Al- Haq, Allah Yang Maha Benar

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Haq (Yang Maha Benar). Nama yang mulia ini telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebut dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj: 6)

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 116)

Baca entri selengkapnya »

Al Hamiid, Allah Yang Maha Terpuji

Salah satu nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Al-Hamiid, yakni Yang Maha terpuji. Nama ini tersebut dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.” (Al-Baqarah: 267)

Baca entri selengkapnya »

Al-Jawwad, Allah Yang Maha Dermawan

 

Di antara Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jawwad, Yang Maha Dermawan. Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini tersebut dalam sebuah hadits dari Thalhah bin Ubaidillah ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Jawwad (Maha Dermawan) mencintai kedermawanan dan mencintai akhlak yang luhur, serta membenci akhlak yang rendah.” (Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan Asy-Syasyi dalam Musnad-nya, 1/80, Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ra dalam Hilyatul Auliya. Asy-Asyaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no. 1744)

  Baca entri selengkapnya »

Al-Barr, Allah Yang Maha Penyayang

Salah satu Asma`ul Husna adalah Al-Barr berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (Ath-Thur: 28)

Adapun maknanya adalah:

Baca entri selengkapnya »

Al-Akram dan Al-Karim, Allah Yang Maha Memberi dan Yang Maha Perkasa

Al-Akram adalah salah satu Al-Asma`ul Husna. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Bacalah, dan Rabbmulah Al-Akram (Yang Maha Pemurah).” (Al-’Alaq: 3)

Dalam atsar Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar ra disebutkan bahwa keduanya mengucapkan doa dalam sa’i antara Shafa dan Marwah:

“Wahai Rabb kami ampunilah dan rahmatilah, serta maafkanlah dari kesalahan yang Engkau ketahui, karena sesungguhnya Engkaulah Al-A’az (Yang Maha Mulia dan Perkasa) dan Al-Akram.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam As-Sunan, 5/95 dan Asy-Syaikh Al-Albani v mengatakan: Riwayat Ibnu Abi Syaibah (yakni dalam Al-Mushannaf) dengan sanad yang shahih dari keduanya. Lihat Manasik Al-Haj wal ‘Umrah hal. 28)

Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lain adalah Al-Karim sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Al-Karim?” (Al-Infithar: 6)

Baca entri selengkapnya »

Al-Bari’, Allah Yang Maha Menjadikan (Maha Perancang)

Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bari`, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan:

“Dia-lah Allah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Al-Bari’, Al-Mushawwir (Yang Membentuk Rupa), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.” (Al-Hasyr: 24)

Baca entri selengkapnya »

Al-Hakim, Allah Yang Maha Bijaksana

Salah satu Asma’ul Husna adalah Al-Hakim. Artinya, Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (Al-Ma’idah: 50)

Maka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia dan tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.

Baca entri selengkapnya »

Al-Hakam, Allah Yang Maha Menetapkan Hukum

“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (Ar-Ra’d: 41)

Baca entri selengkapnya »

Al-Haafidz dan Al-Hafiidz, Allah Maha Penjaga dan Pemelihara

  

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Rabbku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Hud: 57)

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)

Baca entri selengkapnya »

Al-Halim, Allah Yang Maha Penyantun

Salah satu Al-Asma’ul Husna (nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Bagus) adalah Al-Halim (Maha Penyantun). Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Baca entri selengkapnya »

Al-Hayyu, Allah Yang Maha Hidup

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayyu, Yang Maha Hidup. Nama Allah Al-Hayyu ini telah disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya:

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)

Baca entri selengkapnya »

Al Hayiy, Allah Yang Maha Pemalu

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi ra, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, bahwa beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: 

“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya (berdoa, red) kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi) 

Baca entri selengkapnya »

Al-Bashir, Yang Maha Melihat

Qiwamussunnah Al-Ashfahani rahimahullahu mengatakan:

“Maka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhluk. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia melihat apa yang berada di dalam lautan berikut kegelapannya, sebagaimana ia melihat apa yang di langit. Sementara manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang tertutupi antara dia dengannya…

Terkadang nama itu sama, akan tetapi maknanya berbeda.” (Al-Hujjah, 1/181)

  Baca entri selengkapnya »

Al Jamil, Yang Maha Indah

Nama Allah Ta’ala yang maha mulia ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini termasuk sombong?). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”[1].

Baca entri selengkapnya »

Masuk Surga Dengan Kalimat “La ilaaha illallah”

Sebagian orang Islam sering mengucapkan syahadat dengan lisan-lisan mereka, tetapi kebanyakan mereka salah atau kurang lengkap dalam menafsirkan maknanya, tidak memahami rukun-rukun, syarat-syaratnya dan konsekwensinya.  Bahkan kebanyakan mereka belum menyadari adanya beberapa perbuatan yang dapat membatalkan syahadat yang telah mereka ikrarkan.

Pemahaman yang salah atau kurang lengkap ini dapat menyebabkan seseorang tidak memperoleh manfaat dan hikmah dari kalimat “La ilaaha illallah” yang ia ucapkan.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan tentang hikmah yang sangat besar yang terkandung dalam kalimat tersebut,  dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah, pasti ia masuk surga.” (HR. Al-Hakim, hadits hasan)

Dibawah ini kami kutipkan penjelasan ringkas dan praktis dari tulisan Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul Kitab Tauhid (jilid 1).

Baca entri selengkapnya »

Sikap Seorang Muslim Ketika Sedang Menderita Sakit

 

Setiap orang yang beriman pasti akan diberikan ujian oleh Allah subhanahu wata’ala. Ujian tersebut beragam bentuknya, sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang. Ujian bisa berupa kesenangan dan bisa pula berupa kesusahan. Dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah tertimpanya seseorang dengan suatu penyakit yang menggerogoti dirinya.

Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 1sampai 3, bahwa hikmah diberikannya ujian kepada kaum mukminin adalah untuk mengetahui[1] siapa yang jujur dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman mereka tersebut.

Demikian juga ketika sakit, seseorang akan teruji tingkat kejujuran iman dan aqidah dia. Sangat disayangkan, ternyata di sana masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang yang sedang tertimpa penyakit.

Baca entri selengkapnya »

Memelihara Sunnah Nabi Di Akhir Zaman Ini

 

Biasanya seseorang yang terpengaruh dengan lingkungannya, cenderung untuk menyamakan dirinya dengan masyarakat di sekitarnya. Ketika ada suatu sunnah yang tidak dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya, maka ia tidak berani melakukannya. Hal itu dikarenakan rasa malu, minder atau khawatir dianggap tidak bermasyarakat.

Padahal justru pada masa-masa seperti itu seseorang yang menerapkan sunnah akan mendapatkan pahala besar, lima puluh kali lipat pahala para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Ini sesuai dengan sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam:

“Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari sabar bagi orang-orang yang pada waktu itu berpegang dengan apa yang kalian ada di atasnya. Mereka akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian”. Para shahabat bertanya: “Wahai nabi Allah, apakah lima puluh kali pahalanya dari mereka?” beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan dari kalian”. (HR. Marwazi dalam As-Sunnah)

Baca entri selengkapnya »

Jangan Mengambil Hak/Milik Orang Lain, Walaupun Hanya Setangkai Siwak

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga,” maka salah seorang bertanya,”Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak).”[HR Muslim]

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi peduli dari mana dia mendapatkan harta, dari jalan halal ataukah (yang) haram”. [HR Bukhari]

Baca entri selengkapnya »

Sudahkah Anda Memahami Dua Kalimat Syahadat dengan Benar?

 

Setiap muslim seyogyanya mengerti dan memiliki kepedulian terhadap perkara agamanya. Terlebih tatkala dia hidup dimasa kini yang jauh dari jaman kenabian Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan semakin dekat dengan hari kiamat. Dia hidup di tengah kebodohan (ilmu agama) yang telah menyebar sedangkan ilmu agama yang benar semakin pudar dengan meninggalnya para ulama (satu demi satu).

Di antara perkara yang harus dimengerti tersebut adalah dua kalimat syahadat, sebuah perkara yang Allah dan rasul-Nya jadikan sebagai rukun terpenting dari rukun-rukun Islam, dinding pembatas antara iman dan kekufuran, halal atau haramnya darah dan harta seseorang untuk ditumpahkan dan diambil. Bahkan sebagai faktor penentu seseorang menjadi penghuni Jannah (surga) atau Naar (neraka).

Baca entri selengkapnya »

Kemana Kita Hendak Berlindung ?

Adalah suatu perkara yang wajar, bila setiap orang merasa takut dan khawatir akan ditimpa suatu kejelekan, musibah, dan perkara-perkara lain yang tidak disukainya. Namun manusia tidaklah selalu akan terhindar dari perkara-perkara yang tidak disukainya tersebut, di samping dia juga pasti mendapatkan perkara-perkara yang dia inginkan. Itulah kehidupan. Dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah takdirkan itu semua kepada semua makhluk-Nya.

Baca entri selengkapnya »

Tauhid Merupakan Tujuan Manusia Diciptakan, dan Bahaya Besar Bagi Penentangnya

Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.

Sebagian mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju kematian.  Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur, beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggungjawaban amal di hari kiamat kelak.

Allah , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil ini dengan firman-Nya (artinya): “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)

Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan diciptakannya kita di muka bumi ini?

Baca entri selengkapnya »

Wasiat Rasulullah Untuk Umatnya Di Akhir Zaman

Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yang mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991)

  Baca entri selengkapnya »

Kepada Siapa Kita Menyandarkan Nasib Kita?

Menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa dibarengi dengan usaha yang nyata bukanlah termasuk perangai orang yang bertawakkal dengan sebenarnya.

Secara bahasa, tawakkal bermakna الاعتماد (bersandar) dan التفويض (berserah diri). Bertawakkal kepada Allah ta’ala berarti menyandarkan dan menyerahkan segala urusan dia hanya kepada-Nya.

Seorang yang bertawakkal kepada Allah adalah dengan dia benar-benar menyandarkan dirinya kepada Allah saja, dan dia tahu bahwa kebaikan itu datang hanya dari Allah ‘azza wajalla semata, Allah ta’ala sajalah satu-satunya Dzat yang mengatur segala urusannya. Dan dia pun juga memahami apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

Baca entri selengkapnya »

Potret Ummat di Akhir Zaman

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhoriy no.989 dan Muslim no.157)

Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan (kebodohan akan ilmu Islam, red) yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah.

Baca entri selengkapnya »

Cara Syaithan Menggoda Manusia

 

“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.

Baca entri selengkapnya »

Menghidupkan Sunnah Nabi di Akhir Zaman

Sunnah Nabi, sebuah istilah yang kerap kita mendengarnya. Bahkan sering pula mengucapkan karena Sunnah (petunjuk/ajaran Nabi) adalah sesuatu yang menjadi landasan hidup kita sebagai penganut ajaran Islam. Kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan Sunnah dan bersepakat pula bahwa yang merendahkannya berarti menghinakan Islam dan ajaran Nabi.

Ada pula yang menolak dan mengingkari Sunnah Nabi secara total dengan berkedok mengikuti Al Qur’an saja. Padahal Al Qur’an tidak mungkin dipisahkan dari Sunnah. Al Qur’an memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi yaitu Sunnahnya.

Nabi telah mengisyaratkan akan datangnya keadaan ini:

“Sungguh-sungguh aku akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan (tiduran/leyeh-leyeh) di atas dipannya, (lalu) datang kepadanya sebuah perintah dari perintahku atau larangan dari laranganku lalu dia mengatakan: ‘Saya tidak tahu itu, apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah yang kami ikuti.’”(Shahih HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dari Abu Rafi’, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 7172]

Baca entri selengkapnya »

Amal Ketakwaan sebagai Bekal Tabungan Akhirat

Manusia umumnya gemar menumpuk atau menimbun harta. Namun mungkin tak pernah disadari bahwa harta mereka yang hakiki adalah yang disuguhkan pada kebaikan.

Banyak orang berlomba-lomba mencari harta dan menabungnya untuk simpanan di hari tuanya. Menyimpan harta tentunya tidak dilarang selagi ia mencarinya dari jalan yang halal dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya atas harta tersebut, seperti zakat dan nafkah yang wajib.

Namun ada simpanan yang jauh lebih baik dari itu, yaitu amal ketaatan (amal ketakwaan, red) dengan berbagai bentuknya yang ia suguhkan untuk hari akhir. Yaitu suatu hari dimana  tidak lagi bermanfaat harta, anak, dan kedudukan yang pernah kita miliki selama hidup di dunia.

  Baca entri selengkapnya »

Takwa, Bekal Pulang Kita Ke Kampung Akhirat

Ketahuilah! Bekal yang terbaik bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak adalah bekal ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana telah Allah azza wa jalla jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqaroh: 197)

Setiap orang pasti menginginkan kemuliaan dan tidak menyukai kehinaan. Lalu dengan apa seseorang menjadi mulia? Kemuliaan hanya dapat diraih dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, dan bukan dengan banyaknya harta atau dengan tingginya kedudukan. Hanya dengan ketakwaan seseorang akan mulia disisi Allah, sebagaimana telah Allah azza wa jalla jelaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya):

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

  Baca entri selengkapnya »

Tiga Syarat Adanya Keimanan

Iman menurut Ahlussunnah wal jama’ah adalah keyakinan dengan hati, pengikraran dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan maksiat.

Jadi Iman terdiri dari tiga bagian, yaitu :

Baca entri selengkapnya »

Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Baca entri selengkapnya »

Syahadat Bukan Sekedar Ucapan Di Lidah

Maksud dari syahadat kalimat Laa ilaaha illallaah adalah bahwasanya ibadah-ibadah dengan semua jenisnya adalah haq yang tetap untuk Allah semata, yang selain-Nya tidak berhaq sedikitpun darinya, tidak dari malaikat yang didekatkan atau Nabi yang diutus ataupun orang yang shalih, tidak pula batu, pohon, matahari, bulan ataupun yang lainnya.

Maka tidak ada yang berhak diberikan do’a kecuali Allah semata, tidak ada yang berhaq dimintai istighatsah (minta dihilangkan dari kesusahan, kesempitan, mara bahaya dan sejenisnya) kecuali kepada-Nya, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali kepada-Nya, tidak ada yang berhak ditawakkali kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang berhak ditakuti dan diharapkan kecuali Dia.

Baca entri selengkapnya »

Jenis-jenis Tauhid dan Contoh-contoh Penyimpangannya

Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik dari kalangan salaf maupun khalaf setelah meneliti dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang Tauhid mereka menyimpulkan bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ Wa Ash Shifat.

Baca entri selengkapnya »

Kemuliaan Yang Akan Didapatkan Orang-orang Yang Menyempurnakan Tauhidnya

Keutamaan tauhid akan dirasakan manusia baik di dunia maupun di akhirat.  Di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan rasa aman yang langgeng bagi orang-orang yang bertauhid, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Dalam kehidupan akhirat seorang yang bertauhid dengan sempurna akan menikmati rasa aman dari kekekalan dalam api neraka dan ancaman azab.

Baca entri selengkapnya »

Allah Memuliakan Orang-orang Yang Menjaga Sunnah Di Akhir Zaman Ini

                                        

 

 

 

Sesungguhnya menjaga sunnah yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemuliaan yang tiada tara disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Terlebih lagi, jika dituntut untuk merealisasikannya dimasa akhir zaman. Yaitu pada masa dimana hawa nafsu terus diumbar, fatamorgana kesenangan dunia selalu diprioritaskan, sifat pelit telah menjadi panutan, dan setiap orang yang memiliki rasio merasa bangga dengan pikirannya.

Baca entri selengkapnya »

Wasiat Penting Rasulullah Yang Terabaikan

Sesungguhnya termasuk perkara penting yang harus selalu kita ingat adalah wasiat-wasiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya yaitu wasiat perpisahan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Dikisahkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu sebagai berikut:

Baca entri selengkapnya »

Nasihat Tentang Pentingnya Dakwah Kepada Tauhid

(Berikut ini disampaikan nasihat Asy-Syaikh Rabe Al Madkhali tentang pentingnya dakwah kepada tauhid)

Pada pertemuan ini saya (Asy-Syaikh Rabe Al Madkhali) ingin berbicara bersama saudara-saudaraku dan orang-orang yang aku cintai karena Allah seputar perkara-perkara yang bermanfaat bagiku –insyaAllah- dan bermanfaat bagi mereka (juga) di kehidupan dunia ini dan (kehidupan) akhrat (kelak)

  Baca entri selengkapnya »

Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, Da’i kepada Tauhid

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Tetapi tanpa bimbingan-Nya mereka tidak mampu merealisasikan ibadah ini sebagaimana yang diinginkan oleh Rabb mereka. Sehingga kita mengenal dari kisah-kisah ummat terdahulu ummat-ummat yang menyembah benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang atau menyembah api atau patung dan lain sebagainya.

Dan di antara kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia tidak membiarkan hamba-Nya tersesat dalam urusan besar ini. Oleh karena itu diutuslah kepada mereka para nabi dan rasul yang mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah mereka yaitu peribadatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata dan juga untuk menjelaskan rincian dan pelaksanaan ibadah yang diridha’i oleh Rabb mereka Azza wa Jalla.

Baca entri selengkapnya »

Meneladani Dakwah Ulul azmi -Ibrahim Alaihissalaam, Da’i kepada Tauhid

Pada edisi yang lalu telah kita simak sekelumit dakwah nabi Allah yang mulia, bapak manusia yang kedua Nuh Alaihissalam serta kisah kesabaran beliau yang luar biasa yang menyadarkan setiap kita bahwa dakwah kepada tauhid merupakan kaidah utama setiap anbiya’ dan amanat ilahi terbesar yang tidak boleh seorang da’i ke jalan Allah tidak memprioritaskannya. Dan pada edisi ini kita akan menyimak dakwah imam hunafa’ teladan besar di jalan dakwah, nabi Allah Ibrahim Alaihissalaam.

  Baca entri selengkapnya »

Ibrahim Alaihissalam, Sang Pahlawan Pemberani

Ibrahim Alaihissalaam adalah sosok nabi yang agung dan mulia. Berapa banyak lembaran-lembaran kehidupannya yang merupakan teladan bagi setiap insan. Seperti pengorbanannya yang besar ketika Allah mencobanya dengan mimpi untuk menyembelih Ismail anaknya tercinta. Kisah ini sering kali diketengahkan khususnya pada momentum hari raya kurban. Begitu pula kisah beliau ketika meninggalkan istrinya di lembah tak bertuan, kisahnya ketika membangun Ka’bah dan lain sebagainya.

Dan disana ada teladan terbesar yang melebihi kisah-kisah di atas. Tapi hal ini kurang mendapat perhatian dari penulis dan juru-juru khutbah. Yaitu perjuangannya yang besar dalam mendakwahkan Tauhid.  Baca entri selengkapnya »

Sudah Benarkah Pemahaman Anda Terhadap Dua Kalimat Syahadat ?

Setiap muslim seyogyanya mengerti dan memiliki kepedulian terhadap perkara agamanya. Terlebih tatkala dia hidup di jaman yang jauh dari kenabian Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan semakin dekat dengan hari kiamat. Dia hidup di tengah kebodohan yang telah menyebar sedangkan ilmu agama yang benar semakin pudar dengan meninggalnya para ulama.

Di antara perkara yang harus dimengerti tersebut adalah dua kalimat syahadat, sebuah perkara yang Allah dan rasul-Nya jadikan sebagai rukun terpenting dari rukun-rukun Islam, dinding pembatas antara iman dan kekufuran, halal atau haramnya darah dan harta seseorang untuk ditumpahkan dan diambil. Bahkan sebagai faktor penentu seseorang menjadi penghuni Jannah atau Naar.

Baca entri selengkapnya »

Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau karena kagum dengan figur tokoh tertentu. Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amaliahnya (prakteknya) mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.

Baca entri selengkapnya »

Membentengi Rumah Dari Setan (bagian 1)

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya.

Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut? Di antara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para setan. Kenapa demikian? Karena setan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya. Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya. Salah satu target utama setan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Baca entri selengkapnya »

Beberapa Sifat Riya’ Yang Perlu Diwaspadai

Pintu-pintu yang mengantarkan kepada riya’ (ingin dipuji manusia) sangat banyak sekali, kita berlindung kepada Alloh darinya. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut :

Baca entri selengkapnya »

Orang-orang Beriman Selalu Menjaga Ketaqwaannya, Selalu Ingin Berbuat Baik dan Menjaga Akhlak Dalam Pergaulannya

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyAllahu ‘anhu pernah menyampaikan sabda sang Rasul ShallAllahu ‘alaihi wa sallam berikut ini yang berisi pesan-pesan penting agar ketakwaan kita selalu terjaga :

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Baca entri selengkapnya »

Amalan-amalan Itu Tergantung Niatnya

Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.

Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan”.

Baca entri selengkapnya »

Tauhid Rububiyyah Bukan Sekedar Pengakuan

Bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa alam semesta, dan Pengatur Rizki atas segenap makhluk-Nya, hampir tak ada yang menyangkalnya termasuk musyrikin Quraisy dahulu. Namun mengapa mereka tetap diperangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Cukupkah berhenti pada pengakuan semata?

Tak bisa disangkal bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, memiliki, dan mengaturnya. Ini merupakan perkara aksioma yang ditegaskan oleh fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Orang yang mengingkarinya termasuk manusia yang paling sesat. Tak mungkin alam yang sedemikian mengagumkan ini tercipta secara tiba-tiba atau menciptakan dirinya sendiri.

Baca entri selengkapnya »

Semua Makhluk Ditanggung Rizkinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi di awal siang (pagi hari) dalam keadaan perut kosong (lapar) dan pulang di akhir siang (sore hari) dalam keadaan perut penuh berisi (kenyang).” (HR. Ahmad no.205, At-Tirmidziy no.2344 dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahiihah no.310)

Baca entri selengkapnya »

Tauhid Uluhiyyah Inti Ibadah

Inilah sejatinya inti tauhid. Namun dalam tauhid inilah justru bertabur penyimpangan. Betapa banyak ritual kesyirikan yang dipersembahkan untuk hewan keramat seperti Kyai Slamet, tokoh-tokoh rekaan macam Nyi Roro Kidul, atau benda/tempat “keramat” yang jumlahnya tak terhitung lagi. Juga “aksesoris” kesyirikan berupa jimat, rajah penolak bala, dsb. Di dunia modern pun kita mengenal astrologi, feng shui, dan sejenisnya. Pertanyaannya, di mana pengakuan bahwa Allah Maha Pelindung, bahwa Allah yang mengatur segala urusan makhluk-Nya termasuk rizki, karir, jodoh, dan lainnya?

  Baca entri selengkapnya »

Mendalami Tauhid Al-Asma` wash Shifat

Di antara kita mungkin banyak yang belum paham bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki banyak nama dan sifat. Namun tentu saja nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dengan nama dan sifat makhluk-Nya, karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Di antara perbedaannya, nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dengan kesempurnaan, sedangkan nama dan sifat makhluk mengandung banyak kekurangan. Pemahaman yang benar tentang nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi dampak yang besar terhadap keimanan seseorang. Sebaliknya, pemahaman yang keliru bisa menyebabkan seseorang kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca entri selengkapnya »

Beriman Pada Takdir Allah, Tanpa Pasrah dan Tetap Berupaya

Sebagian kaum muslimin cenderung salah memahami makna takdir, mereka hanya pasrah terhadap takdir yang telah ditentukan Allah hingga akhirnya malas untuk berusaha/berupaya.  Jika kaum muslimin memahami dengan benar masalah takdir ini, niscaya mereka akan mengetahui kekuasaan Allah yang Maha Besar dan Mutlak. Dan bahwasanya segala daya upaya dan kekuatan kita ada di bawah kekuasaan Allah.

  Baca entri selengkapnya »

Mencintai Karena Allah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” [HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi (no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.]

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan itu memiliki rasa manis yang dapat dirasakan oleh orang yang hatinya tenang dalam keimanan sebagaimana orang dapat merasakan lezatnya makanan. Bahkan iman itu lebih lezat dan lebih baik, karena ia adalah santapan khusus untuk ruh. Adapun makanan hanyalah untuk jasad yang fana (bersifat sementara).

Baca entri selengkapnya »

Antara Rasa Takut dan Rasa Harap (Khauf dan Roja`)

Khauf (rasa takut) dan roja` (rasa harap) adalah dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas kehidupannya. Bagaimana tidak, sebab dengan khauf akan membawa dirinya untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; sementara roja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.

Pendek kata dengan khauf (takut) dan roja` (pengharapan) seorang mukmin akan selalu ingat  bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Sang Penciptanya (karena adanya rasa takut), disamping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan (karena adanya pengharapan).

Baca entri selengkapnya »

Semangat Menghidupkan Sunnah

Para shahabat dan orang-orang setelah mereka, sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai-sampai di antara mereka ada yang takut kalau meninggalkan sedikit saja dari perintah Rasulullah, maka dia akan menyimpang.   Berkata Abu Bakr Ash-Shiddiq, “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku melakukannya dan sesungguhnya aku benar-benar takut kalau aku meninggalkan sedikit saja dari perintah beliau maka aku akan menyimpang.” (Al-Ibaanah, Ibnu Baththah 1/246, diambil dari Ta’zhiimus Sunnah hal.24)

Berikut ini salah satu contohnya.

Baca entri selengkapnya »

Benarkah Bumi Mengelilingi Matahari?

Teori yang dipahami ilmuwan dan kebanyakan manusia saat ini adalah bahwa bumi mengelilingi matahari. 

Apakah ini benar?  Sedangkan Al Qur’an menjelaskan bahwa  matahari lah yang mengelilingi bumi. Dan sebagai umat Islam kita wajib mengimani/ meyakini hal ini walaupun seluruh umat dan ilmuwan di muka bumi ini mengatakan yang sebaliknya.

Apakah dalil-dalil syar’i yang menyatakan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjawab :

Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya.

Baca entri selengkapnya »

Betapa Dahsyatnya dan Betapa Mengerikannya Siksaan di Dalam Neraka

(Artikel ini merupakan transkrip dari rekaman ceramah yang disampaikan dengan penuh keharuan dan sangat menggetarkan hati, oleh Al Ustadz Dzulqarnain Al Makassari. Untuk mendengar rekaman aslinya silahkan klik link ini :
http://www.4shared.com/file/145890471/cbe07b9f/05_Betapa_Dahsyatnya_dan_Betapa_Mengerikannya_Siksaan_di_Dalam_Neraka_Al_Ustadz_Dzulqarnain_Al_Makasari_wwwkajiansunnahwordpresscom.html

 

…Wahai hamba Allah, kaum Muslimin, ketahuilah sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menciptakan makhluk supaya mereka mengenal Allah Subhanahu wata’ala dan menyembah-Nya dan supaya mereka takut kepada-Nya. Dan Allah Subhanahu wata’ala telah menggambarkan tentang pedihnya siksaan-Nya dan dahsyatnya api Neraka-Nya di dalam Al Quranul karim dengan pensifatan yang sedemikian banyak dan pengulangan yang beraneka ragam.

Seluruh hal tersebut Allah Subhanahu wata’ala sifatkan tentang api Neraka (An-Naar) dan apa yang Allah Subhanahu wata’ala siapkan berupa siksaan dan kepedihan dan yang terkandung di dalamnya berupa makanan dari zaqqum, addhori’, air yang mendidih, belenggu, dan rantai yang membuat getar hati orang-orang beriman yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala yang maha perkasa lagi maha kuat. Dan membuat getar hati para hamba yang menyadari dirinya bahwa dia akan berdiri di depan Allah Subhanahu wata’ala yang maha perkasa.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan dari api Neraka dan demi Allah!… tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan kepada hamba-Nya dan membuat mereka takut kepada sesuatupun yang lebih keras dan lebih dahsyat dari api Neraka.

Baca entri selengkapnya »

Arti Rasa Takut

Takut adalah Ibadah

Dalam agama, rasa Takut termasuk salah satu bentuk ibadah hati, bahkan memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Takut adalah salah satu dari rukun ibadah dan merupakan syarat iman, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti (kamu), karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).

Baca entri selengkapnya »

Menggunakan Akal Sesuai Kemampuan dan Batasan

Pemuliaan akal secara berlebihan (pengkultusan akal) adalah perbuatan yang menghinakan akal serta menyiksa akal karena telah membebani akal dengan sesuatu diluar batas kemampuan akal.   Karena akal adalah sesuatu yang berada dalam jasmani makhluk, maka sebagaimana makhluk yang lain, akal memiliki sifat lemah dan keterbatasan. Jika akal menggunakan daya pikirnya pada lingkup dan batasnya serta memaksimalkan pengkajiannya, ia akan tepat (menentukan) dengan ijin Allah. Tetapi jika ia menggunakan akalnya di luar lingkup dan batasnya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah tetapkan maka ia akan membabi buta…” (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, hal. 1105)

Baca entri selengkapnya »

Sifat Calon Penghuni Surga

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Dzat Yang Maha Pemurah padahal Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaf: 31-35)

Melalui ayat tersebut diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan tentang sifat-sifat calon penghuni surga, bahwa Ia mendekatkan Al-Jannah kepada orang-orang yang bertakwa, dan bahwa para penghuninya adalah yang memiliki empat sifat berikut ini:

Baca entri selengkapnya »

Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis

Keberadaan Jin, Setan, dan Iblis merupakan suatu kepastian yang diakui dalam syariat Islam, sehingga jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.

Jin Diciptakan Sebelum Manusia

Kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)

Baca entri selengkapnya »

Kekayaan dan Kemiskinan Yang Sesungguhnya

Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya atau miskin?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini: “Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah (merasa cukup) terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.

Baca entri selengkapnya »

Bagaimana Meyakini Keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dengan empat argumen yang tak terbantahkan yakni fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Argumen secara syariat diletakkan pada bagian akhir, bukan karena kedudukannya tidak penting, melainkan karena argumen akal (fitrah, logika, panca indera) lebih mudah diterima oleh orang-orang yang lemah atau belum beriman pada syariat Islam. Allahul Musta’an.

Baca entri selengkapnya »

Kenali Bahaya Besar : Riya’ !

Riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya. 

Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.

Baca entri selengkapnya »

Jadilah Mukmin Yang Kuat

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).

Hadits yang mulia ini menunjukkan makna sbb:

Baca entri selengkapnya »

Urgensi Tauhid Bagi Setiap Muslim

Kepentingan manusia untuk bertauhid sungguh jauh berada di atas kepentingan mereka terhadap makanan, minuman atau tempat tinggal. Kalau seseorang tidak makan atau minum, akibat terburuk yang dialami hanyalah sekedar kematian. Namun, kalau seseorang tidak bertauhid barang sekejap saja dan pada saat itu dia meninggal dalam keadaan musyrik, maka siksaan yang kekal di neraka sudah siap menantinya.

Baca entri selengkapnya »

Persiapkan Bekal Perjalanan Panjang Menuju Rumah Akhirat

Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)

Baca entri selengkapnya »

7 Kandungan Penting Kalimat Lailaha illallah

Kalimat Laa ilaaha illallah ini mengandung makna penafi’an (peniadaan) sesembahan selain Allah dan menetapkannya (segala bentuk peribadahan,red) hanya untuk Allah semata.

1. Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada Rabb yang berhak disembah melainkan Allah.” (Muhammad: 19)

Mengetahui makna Laa ilaaha illallah adalah wajib dan harus didahulukan dari seluruh rukun yang lainnya.

Baca entri selengkapnya »

Older entries »