Arsip untuk Kebun11 : BAHAYA BESAR YANG HARUS KITA JAUHI
Awal Permusuhan Iblis Kepada Manusia

Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.
12 Tempat Yang Paling Disukai Para Syaithan

Ada beberapa tempat yang disukai para syaitan dimana mereka banyak berada disana. Dengan memahami hal ini semoga kita bisa menghindarinya dan tidak menjadikan rumah kita sebagai salah satu tempat yang digemari syaithan.
Syaithan mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk menakutkan (seperti misalnya hantu, red), mereka bisa juga hadir sebagai penggoda yang mengotori hati manusia, kemudian menjauhkan manusia dari agamanya.
Berikut ini beberapa diantaranya dikutip dari tulisan Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam.
6 Cara Syaithan Menggoda Manusia
“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.
Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighosatul Lahfan menjelaskan : “Jalan yang dilalui oleh insan ada empat, (tidak lebih) ia terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya“.
Pintu Masuk Setan, dan Senjata Untuk Melawannya
Sesungguhnya Allah telah menjadikan setan sebagai musuh bagi para Nabi dan kaum mukminin. Allah berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”(Al-An’am: 112)
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Tersesat Tanpa Sadar
Apabila kita telah yakin berada di atas jalan yang benar, diatas Sunnah dan Qur’an, maka tetaplah waspada! Jangan cepat merasa aman. Seiring berjalannya waktu dan kehidupan dunia ini, bisa jadi kita telah menyimpang tanpa sadar dari jalan yang benar.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara ciri-ciri kehidupan manusia di akhir zaman (tanda-tanda hari Kiamat) adalah munculnya fitnah (ujian/cobaan) besar berupa bercampuraduknya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari.
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim, no. 186)
Jangan Bersedih Bila Umat Islam Belum Maju Dalam Perkara Dunia
Berkata Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]
Jangan Tertipu dengan Kemajuan kaum kafir, dan Bersedih atas Kemunduran Kaum Muslimin dalam Perkara Keduniaan
Apakah Syiah itu Termasuk Islam ?
Sehubungan dengan terjadinya penyerangan kaum Syiah yang membombardir Madrasah Ahlus Sunnah di Dammaj (Yaman) sejak Oktober 2011 (beberapa santri dari Indonesia dan Malaysia wafat), selain rasa terkejut juga telah muncul berbagai pandangan berbeda dari umat Islam sendiri di berbagai negeri. Salah satu pandangan yang sering terungkap adalah komentar yang menyayangkan terjadinya konflik tersebut sebagai perpecahan diantara umat Islam sendiri. Ini perlu diluruskan, karena konflik ini sudah berumur ribuan tahun.
Sebagian umat Islam tidak meneliti secara ilmiah, bahkan terhanyut pada pendapat kaum liberal yang melontarkan pendapat yang terlihat logis, “Mengapa harus terjadi perselisihan sesama umat Islam? Ayolah kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya di atas yang Syi’i dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”
Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…
Bahaya Besar Syirik (1) : Lebih Berbahaya Dari Segala Jenis Masalah Dunia dan Kemanusiaan Sepanjang Abad
Benar bahwa ummat Islam menghadapi masalah-masalah yang multi kompleks, mulai dari masalah politik, ekonomi, pemerintahan, bahkan sampai pada penindasan kaum muslimin pada sebagian negeri Islam oleh orang-orang kafir. Akan tetapi kalau kita mau memahami agama yang mulia ini berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, maka tahulah kita bahwa problematika ummat yang sesungguhnya jauh lebih besar dari itu semua adalah permasalahan aqidah tauhid.
Hal ini karena tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus ditunaikan, melebihi hak-haknya makhluq. Sungguh ironi ketika kita berteriak-teriak membela hak-hak makhluq yang terampas, pada saat yang sama kita mendiamkan kesyirikan di depan mata kita.
Demikian pula, jika aqidah tauhid ini tercemari dengan kotoran-kotoran syirik dan noda-noda kekufuran maka bahaya yang mengancam ummat Islam, bahkan seluruh ummat manusia, tidak saja di dunia ini tetapi sampai di akhirat kelak, yaitu kekal dalam neraka. Bahkan syirik adalah sebab utama seluruh masalah ummat manusia di dunia dan akhirat.
Baca entri selengkapnya »
Bahaya Besar Syirik (2) : Memahami Makna Syirik, Antara Syirik Besar dan Syirik Kecil
Para Ulama telah membagi kesyirikan menjadi dua, yaitu syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asgar). Syirik besar adalah seorang yang mengadakan tandingan bagi Allah Ta’ala dalam perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ was shifat (lihat Ma’arijul Qobul, 2/483, Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1/516).
Perbedaan syirik besar dan syirik kecil penting untuk dipahami karena masing-masing dari kedua bentuk syirik ini memiliki hukum dan konsekuensi tersendiri.
Baca entri selengkapnya »
Bahaya Besar Syirik (3) : Syirik Sebagai Dosa Terbesar dan Ancaman (Kemarahan) Allah Terhadap Pelaku Syirik
Adapun diantara bahaya perbuatan syirik adalah sebagai berikut:
Pertama: Syirik adalah dosa dan kezhaliman terbesar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata pada anaknya saat ia memberi pelajaran padanya, “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan-Nya adalah kezhaliman yang besar”.” (Luqman: 13)
Baca entri selengkapnya »
Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (1) : Berdoa, Bernadzar dan Menyembelih Hewan Untuk Selain Allah
Syirik dalam uluhiyah atau ibadah adalah mempersembahkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala, baik ibadah yang zhahir maupun ibadah hati (batin). Inilah kesyirikan yang paling banyak tersebar di masyarakat. Macamnya pun sangat beragam, sebanyak bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.
Maka berikut ini kami akan memberikan sebagian contoh dari macam-macam syirik kepada Allah Ta’ala dalam ibadah.
Baca entri selengkapnya »
Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (2) : Cinta, Takut, Harapan, Tawakal dan Taat Kepada Selain Allah
Cinta Kepada Selain Allah
Fenomena syirik dalam cinta telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Cinta kepada Allah Ta’ala ada empat tingkatan:
Baca entri selengkapnya »
Bentuk Syirik Di Sekitar Kita (3) : Syirik Dalam Niat Karena Riya’ dan Sum’ah
Riya’ adalah seorang yang memperlihatkan ibadahnya kepada orang lain demi mendapat pujian. Termasuk juga dalam makna ini adalah sum’ah, yakni seorang memperdengarkan atau menceritakan amalannya kepada orang lain demi mendapat pujian.
Baca entri selengkapnya »
Bentuk Syirik di Sekitar Kita (4) : Syirik dalam Niat Beramal karena dunia
Bentuk yang kedua dari syirik dalam niat adalah seorang yang beribadah karena dunia, seperti karena harta, pangkat, status sosial, wanita, kehormatan, dan lain-lain.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan salah satu bab dalam Kitabut Tauhid, “Termasuk kesyirikan, seorang yang beramal karena dunia”, kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala:
Baca entri selengkapnya »
Contoh-contoh Perbuatan Syirik dan Bid’ah
Inilah beberapa contoh perbuatan/ibadah yang berpengaruh terhadap Aqidah Islam seorang muslim.
Semoga ini bisa membantu kita memahami contoh-contoh perbuatan Syirik dan Bid’ah yang mungkin kita temui dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita. Barangsiapa menempuh jalan lain (syirik dan bid’ah), atau menyangka bahwa amalan ibadahnya akan dibalas dengan kenikmatan jannah (surga) meskipun tanpa menuntut ilmu, maka akan sia-sialah ibadahnya meskipun dengan susah-payah dia menjalaninya. Bahkan dia akan menjadi orang yang merugi karena sia-sia amalannya. Dirinya menyangka telah banyak beramal, padahal apa yang dilakukan adalah amalan bid’ah yang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan yang dilakukan adalah perbuatan syirik yang akan menjadi sebab gugurnya seluruh amal ibadah yang telah dilakukannya.
Baca entri selengkapnya »
Berkembangnya Kesyirikan Dan Penyimpangan Akidah, Penyebab Terhalangnya Keberkahan, Kedamaian dan Ketentraman Suatu Negeri
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu muslihat. Ketika itu, si pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang amanah dianggap khianat, dan Ruwaibidhah akan tampil bicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah?” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab, “Seorang dungu yang berbicara tentang masalah umat.” (HR. Ahmad dalam “Musnad”nya, juz: 3 hal. 220, no. 13322), red)
Penyimpangan Akidah Berpotensi Membatalkan Keislaman Seorang Muslim
Bagi seorang muslim, keharusan memiliki akidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan akidah yang benar seperti kepala bagi jasad. Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal perbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.
Kerusakan terbesar yang menodai kesucian fitrah setiap insan adalah penyimpangan di dalam akidah. Kerusakan inilah yang menjadi tujuan akhir dari setiap gerakan setan, yang berlayar dan berlabuh di atas kesucian fitrah manusia dengan senjata yang sulit tertandingi kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat dan taufik serta hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.
Dua senjata ampuh setan dalam merusak fitrah manusia adalah syubhat dan syahwat.
Baca entri selengkapnya »
Orang-orang Yang Menyesatkan Manusia di Masa Kini
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits:
“Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: “pembunuhan demi pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas.
Baca entri selengkapnya »
15 Akibat Buruk Perbuatan Dosa
Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. 15 di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:
1. Terhalang dari ilmu yang haq (benar / lurus). Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.
Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”
2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba
Baca entri selengkapnya »
Mengapa Disebut Ahlusunnah wal Jamaah?
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat.
Berikut ini penjelasannya (bersumber / diringkas dari penjelasan Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain) :
Baca entri selengkapnya »
Jangan Mengambil Hak/Milik Orang Lain, Walaupun Hanya Setangkai Siwak
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga,” maka salah seorang bertanya,”Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak).”[HR Muslim]
“Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi peduli dari mana dia mendapatkan harta, dari jalan halal ataukah (yang) haram”. [HR Bukhari]
Baca entri selengkapnya »
Akibat Yang Akan Dirasakan Oleh Pelaku Riba
Tidaklah Allah melarang dari sesuatu kecuali karena adanya dampak buruk dan akibat yang tidak baik bagi pelaku. Seperti Allah melarang dari praktek riba, karena berakibat buruk bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Praktek riba (bunga bank, bunga pinjaman kredit, deposito, jual beli saham, promes, LC, asuransi, transaksi obligasi, transaksi valas, dll, red.) dengan segala bentuknya adalah haram dan merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat.
Baca entri selengkapnya »
Tauhid Merupakan Tujuan Manusia Diciptakan, dan Bahaya Besar Bagi Penentangnya
Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.
Sebagian mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju kematian. Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur, beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggungjawaban amal di hari kiamat kelak.
Allah , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil ini dengan firman-Nya (artinya): “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)
Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan diciptakannya kita di muka bumi ini?
Baca entri selengkapnya »
Wasiat Rasulullah Untuk Umatnya Di Akhir Zaman
Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yang mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991)
Baca entri selengkapnya »
Cara Syaithan Menggoda Manusia
“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.
Memakan Harta Sesama, Dosa Yang Sering Tak Disadari
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (An-Nisa’: 29)
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin untuk memakan harta sebagian mereka terhadap sebagian lainnya dengan cara yang batil. Yaitu dengan segala jenis penghasilan yang tidak syar’i, seperti berbagai jenis transaksi riba, judi, mencuri, dan lainnya, yang berupa berbagai jenis tindakan penipuan dan kezaliman. Bahkan termasuk pula orang yang memakan hartanya sendiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan. (Tafsir Ibnu Katsir, Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Baca entri selengkapnya »
Jenis-jenis Tauhid dan Contoh-contoh Penyimpangannya
Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik dari kalangan salaf maupun khalaf setelah meneliti dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang Tauhid mereka menyimpulkan bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ Wa Ash Shifat.
Baca entri selengkapnya »
Allah Memuliakan Orang-orang Yang Menjaga Sunnah Di Akhir Zaman Ini
Sesungguhnya menjaga sunnah yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemuliaan yang tiada tara disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Terlebih lagi, jika dituntut untuk merealisasikannya dimasa akhir zaman. Yaitu pada masa dimana hawa nafsu terus diumbar, fatamorgana kesenangan dunia selalu diprioritaskan, sifat pelit telah menjadi panutan, dan setiap orang yang memiliki rasio merasa bangga dengan pikirannya.
Baca entri selengkapnya »
Mewaspadai ‘Ulama’ Yang Menyesatkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits: “Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: “pembunuhan demi pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekacauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas. Di zaman ini, ilmu telah sedemikian berkurang, sehingga sangat langka untuk kita temui di tengah masyarakat muslimin, seorang yang bisa disebut sebagai ulama. Kondisi ini semakin diperparah dengan kemunculan berbagai fitnah dan kekacauan di tengah-tengah mereka.
Orang-orang Ingkar dan Keras Kepala Calon Penghuni Neraka
Dalam surat Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan beberapa sifat penghuni neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” (Allah berfirman) “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Qaf: 23-26)
Peringatan Allah Tentang Bahaya Kemunafikan
Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada kaum mukminin agar mewaspadai sifat munafik, tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:
“Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Baca entri selengkapnya »
Sikap para Shahabat Terhadap Akal
Para shahabat sebagai manusia termulia diantara umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling paham dalam menempatkan akal mereka.
Baca entri selengkapnya »
Hindarkan Syirik Dengan Mengenalinya Jenis-jenisnya.
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS, An-Nisa’ : 48)
Syirik tergolong dosa besar dan tak terampuni. Kenali kesyirikan dengan baik, karena bisa jadi seseorang telah terjerumus kedalamnya tanpa ia sadari.
Bahaya Lisan
Lisan atau lidah merupakan salah satu bentuk nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala karena dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (Al-Balad: 8-9)
Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya.
Menggunakan Akal Sesuai Kemampuan dan Batasan
Pemuliaan akal secara berlebihan (pengkultusan akal) adalah perbuatan yang menghinakan akal serta menyiksa akal karena telah membebani akal dengan sesuatu diluar batas kemampuan akal. Karena akal adalah sesuatu yang berada dalam jasmani makhluk, maka sebagaimana makhluk yang lain, akal memiliki sifat lemah dan keterbatasan. Jika akal menggunakan daya pikirnya pada lingkup dan batasnya serta memaksimalkan pengkajiannya, ia akan tepat (menentukan) dengan ijin Allah. Tetapi jika ia menggunakan akalnya di luar lingkup dan batasnya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah tetapkan maka ia akan membabi buta…” (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, hal. 1105)
Kedzaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat
Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maknanya bahwa di hari akhirat kelak, para pelaku kedzaliman tidak akan mendapatkan arah/jalan yang akan dituju (berada dalam kegelapan yang menakutkan) dan pelakunya akan ditimpa berbagai kesempitan dan kesulitan di masa-masa panjang saat huru-hara hari akhirat kelak.
Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis
Keberadaan Jin, Setan, dan Iblis merupakan suatu kepastian yang diakui dalam syariat Islam, sehingga jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.
Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)
Generasi Pewaris dan Penjaga Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Ini sesuai dengan riwayat dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)
Kenali Bahaya Besar : Riya’ !
Riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.
Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.
Adakah Diantara Manusia atau Jin Yang Mengetahui Hal Ghaib ?
Meyakini adanya makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib termasuk salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan. Karena salah satu dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meyakini bahwa tidak ada satu pun dari makhluk Allah yang ada di langit (seperti malaikat) ataupun di bumi (seperti Nabi-Nabi dan manusia atau jin) yang mengetahui hal ghaib.
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keyakinan Ahlus Sunnah mengenai hal ini adalah sebagai berikut :
Kenali Bahaya Besar : Syirik Besar dan Syirik Kecil
Syirik (Mempersekutukan Sesuatu Dengan Allah)
Syirik merupakan bahaya yang terbesar dan penyakit yang paling berbahaya. Sumber kesyirikan bermula dari keyakinan (i’tiqad) yang ada di dalam hati. Para ulama membagi jenis syirik menjadi dua bagian :
a) Syirik Akbar (besar)
- Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
- Diharamkan baginya Surga.
- Kekal di dalam neraka.
- Membatalkan semua amalan-amalan yang lalu.
b) Syirik Ashghar (kecil)
Syirik, Bahaya Terbesar Umat Islam
Syirik merupakan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, dosa yang tidak akan diampuni Allah, dan pelakunya diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus dan sia-sia. Oleh sebab itu mengenal hakikat syirik dan bahayanya adalah perkara yang sangat penting yang wajib diketahui dan diwaspadai setiap muslim. Janganlah pernah seorang muslim merasa aman dari huru-hara akhirat bila kita belum mengenali dengan baik bahaya-bahaya syirik perusak amalan dan akidah. Baca entri selengkapnya »
Ibadah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah yang disyariatkan Allah dibangun diatas dasar-dasar dan asas-asas yang kuat dan kokoh, ringkasnya sebagai berikut:
1. Ibadah itu adalah taufiqiyah
Artinya ibadah merupakan bentuk bimbingan Allah yang ditentukan-Nya. Jadi tidak ada ruang bagi akal manusia untuk bertanya apa dan mengapa (red.), bahkan yang berhak membuatnya hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya:
Mengapa Menahan Pandangan ?
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya…”
(Firman Allah yang terdapat pada Al-Qur’an surat an-Nur ayat 32)
Berikut ini beberapa alasan yang melatarbelakangi pentingnya menahan pandangan (godhul bashor), yaitu:
Ghuluw, Tipu Daya Setan Bagi Yang Sedang Bersemangat Dalam Beribadah
Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah. Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan.
Ciri-ciri Golongan Yang Selamat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan (yang selamat). Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.”
Baca entri selengkapnya »
Bahaya Bergaul Dengan Teman Yang Buruk
Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang. “Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)
Jangan Tersesat ! Pastikan Berada di Jalan Yang Selamat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah berpesan pada umat Islam, termasuk kita yang berada diakhir zaman ini, dalam sabdanya : “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…”
Baca entri selengkapnya »
Syirik, Dosa Terbesar dan Tak Terampuni
Syirik itu adalah perbuatan seseorang yang meyakini bahwa selain Allah ada yang mencipta, memberi rizqi, menghidupkan, mematikan, mengetahui perkara ghaib, mengatur alam. Syirik juga berarti beribadah kepada selain Allah, seperti ruku’, sujud, menyembelih, bernadzar, berdo’a, dan lainnya. Syirik menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam.
[Definisi menurut Syaikh Muhammad bin Ali Al-Wushobiy-hafizhahullah, dalam Al-Qoul Al-Mufid (hal. 95), cet. Dar Ibnu Hazm]
Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Dosa dan maksiat yang diperbuat anak manusia memang mengundang kemudaratan (keburukan, red). Tidak ada satupun kejelekan yang didapatkan di dunia dan di akhirat kelak kecuali karena sebab dosa dan maksiat.
Dan yang namanya dosa walaupun kecil tetaplah memberi mudarat, apalagi bila dilakukan terus menerus. Namun disayangkan, pada hari-hari ini kita melihat betapa kaum muslimin berenang dalam lumpur dosa dan genangan maksiat. Tak heran bila musibah datang silih berganti.
Hukuman Dunia dan Akhirat Terhadap Pelaku Kedzaliman
Beberapa akibat berbuat dzalim dapat kita rinci berikut ini:
Hukuman dan akibat yang diperoleh di dunia
1. Orang yang berbuat dzalim tidak beroleh keberuntungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya tidak beruntung orang-orang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 135)
2. Terkadang orang yang berbuat dzalim terhalang dari mendapatkan petunjuk/hidayah taufiq . Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan hal ini
dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 144)
Sementara hidayah taufiq ini harus kita pinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus berulang kita mohonkan pada-Nya dalam setiap shalat, tatkala membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat: “Berilah petunjuk pada kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)
Lalu adakah permintaan ini akan diijabahi (dikabulkan) bila perbuatan dzalim senantiasa menyertai diri seseorang?
3. Balasan kedzaliman akan diterima di dunia, sebelum nantinya akan dibalas pula di akhirat.
Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada satu dosa yang paling pantas untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan hukumannya di dunia disertai simpanan hukuman yang akan diperolehnya di akhirat, selain dosa kedzaliman dan memutuskan silaturahim.” (HR. Abu Dawud no. 4902, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi`i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain no. 1166)
4. Kedzaliman merupakan sebab datangnya musibah di dunia, baik itu berupa kelaparan, wabah penyakit, banjir, gempa bumi, gunung meletus, kemiskinan, pembunuhan, tingginya harga barang, dan sebagainya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang dzalim, mereka akan beroleh adzab sebelum kematian mereka , akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Ath-Thur: 47)
5. Meratanya adzab pada satu kampung/daerah yang penduduknya berbuat dzalim.
Apabila kedzaliman telah tersebar di tengah masyarakat dan penduduknya melakukan perbuatan dzalim secara terang-terangan, maka bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meratakan adzab kepada mereka sehingga hampir-hampir tak ada seorang pun dari mereka yang selamat, sampaipun orang shalih yang ada di masyarakat tersebut ikut terkena adzab . Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang apa yang diperbuat-Nya kepada penduduk negeri yang dzalim:
“Dan berapa banyak penduduk negeri yang dzalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya.” (Al-Anbiya: 11)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:
“Dan jagalah diri-diri kalian dari fitnah (adzab/ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang dzalim di antara kalian secara khusus.”(Al-Anfal: 25)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullahu berkata dalam menafsirkan ayat di atas: “Bahkan adzab itu menimpa pelaku kedzaliman dan juga selainnya. Hal ini terjadi apabila kedzaliman dilakukan secara terang-terangan sementara tidak ada yang berusaha merubahnya, maka hukuman yang datang pun merata menimpa pelakunya dan selain pelakunya.
Cara menjaga diri dari fitnah ini adalah dengan melarang dari perbuatan mungkar, mematahkan/menghancurkan orang-orang jelek dan yang suka membuat kerusakan, selain itu selama memungkinkan mereka tidak membiarkan kemaksiatan dan kedzaliman mendominasi/bisa unjuk gigi.”
(Taisir Al-Karimur Rahman hal. 318)
Hukuman dan Akibat yang Diperoleh di Akhirat
Hukuman yang dipersiapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat jauh
lebih dasyhat dan mengerikan daripada adzab di dunia, sebagaimana kabar yang kita dapatkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah berikut ini:
1. Orang-orang yang dzalim tidak memiliki penolong, teman dekat dan pemberi syafaat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada penolong bagi orangorang dzalim.” (QS. Ali Imran)
“Orang-orang dzalim tidak memiliki teman setia seorang pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (QS, Ghafir: 18)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan beroleh syafaatku yaitu pemimpin yang sangat dzalim lagi lalim dan setiap orang yang ghuluw yang keluar/menyimpang dari agama.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 8/337/8079, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 470)
2. Bangkrutnya orang-orang dzalim pada hari ditampakkannya amalan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya , maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 2449)
Dalam dua hadits di atas terdapat keterangan bahwa perbuatan dzalim pada hari kiamat nanti akan mengantarkan pada kebangkrutan.
3. Penyesalan orang yang dzalim pada hari kiamat.
Ketika orang yang dzalim ini melihat bukti ancaman Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada hari kiamat, ia pun menyesali dirinya namun pada hari itu penyesalan tak lagi berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Kalau seandainya setiap diri yang dzalim itu memiliki segala apa yang ada di bumi ini, niscaya dia akan menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan adzab itu. Dan telah diberikan keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya.” (QS Yunus: 54)
4. Ancaman masuk neraka bagi orang yang berbuat dzalim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang mengambil hak seorang muslim maka sungguh Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga baginya”. Ada seseorang yang bertanya: “Walaupun itu sesuatu yang remeh/sedikit wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Walaupun cuma sepotong kayu arak.” (HR. Muslim no. 351)
Abu Salamah (seorang tabi’in) mengabarkan bahwa pernah terjadi pertikaian antara dirinya dengan orang-orang dalam masalah tanah, maka diceritakannya hal itu kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Aisyah pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Salamah, lebih baik engkau jauhi tanah tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Siapa yang berbuat dzalim terhadap satu jengkal tanah maka akan ditimpakan/dipikulkan padanya tujuh lapis bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 2453 dan Muslim no. 4113)
Wallahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam bishawwab.
diringkas dari sumber aslinya : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=438



















































