Arsip untuk 5. Bahaya Maksiat / Kemungkaran / Kedzoliman

15 Akibat Buruk Perbuatan Dosa

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa.  15 di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

1. Terhalang dari ilmu yang haq (benar / lurus). Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i.   Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.

Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba

Baca entri selengkapnya »

Jangan Mengambil Hak/Milik Orang Lain, Walaupun Hanya Setangkai Siwak

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga,” maka salah seorang bertanya,”Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak).”[HR Muslim]

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi peduli dari mana dia mendapatkan harta, dari jalan halal ataukah (yang) haram”. [HR Bukhari]

Baca entri selengkapnya »

Orang-orang Ingkar dan Keras Kepala Calon Penghuni Neraka

Dalam surat Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan beberapa sifat penghuni neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” (Allah berfirman) “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Qaf: 23-26)

Baca entri selengkapnya »

Peringatan Allah Tentang Bahaya Kemunafikan

Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada kaum mukminin agar mewaspadai sifat munafik, tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:

“Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)

Baca entri selengkapnya »

Bahaya Lisan

Lisan atau lidah merupakan salah satu bentuk nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala karena dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (Al-Balad: 8-9)

Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya.

Baca entri selengkapnya »

Kedzaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maknanya bahwa di hari akhirat kelak, para pelaku kedzaliman tidak akan mendapatkan arah/jalan yang akan dituju (berada dalam kegelapan yang menakutkan) dan pelakunya akan ditimpa berbagai kesempitan dan kesulitan di masa-masa panjang saat huru-hara hari akhirat kelak.

Baca entri selengkapnya »

Jangan Meremehkan Dosa Kecil

Dosa dan maksiat yang diperbuat anak manusia memang mengundang kemudaratan (keburukan, red). Tidak ada satupun kejelekan yang didapatkan di dunia dan di akhirat kelak kecuali karena sebab dosa dan maksiat.

Dan yang namanya dosa walaupun kecil tetaplah memberi mudarat, apalagi bila dilakukan terus menerus. Namun disayangkan, pada hari-hari ini kita melihat betapa kaum muslimin berenang dalam lumpur dosa dan genangan maksiat. Tak heran bila musibah datang silih berganti.

Baca entri selengkapnya »

Hukuman Dunia dan Akhirat Terhadap Pelaku Kedzaliman

Beberapa akibat berbuat dzalim dapat kita rinci berikut ini:

Hukuman dan akibat yang diperoleh di dunia

1. Orang yang berbuat dzalim tidak beroleh keberuntungan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya tidak beruntung orang-orang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 135)

2. Terkadang orang yang berbuat dzalim terhalang dari mendapatkan petunjuk/hidayah taufiq . Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan hal ini
dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 144)

Sementara hidayah taufiq ini harus kita pinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus berulang kita mohonkan pada-Nya dalam setiap shalat, tatkala membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat: “Berilah petunjuk pada kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Lalu adakah permintaan ini akan diijabahi (dikabulkan) bila perbuatan dzalim senantiasa menyertai diri seseorang?

3. Balasan kedzaliman akan diterima di dunia, sebelum nantinya akan dibalas pula di akhirat.
Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada satu dosa yang paling pantas untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan hukumannya di dunia disertai simpanan hukuman yang akan diperolehnya di akhirat, selain dosa kedzaliman dan memutuskan silaturahim.” (HR. Abu Dawud no. 4902, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi`i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain no. 1166)

4. Kedzaliman merupakan sebab datangnya musibah di dunia, baik itu berupa kelaparan, wabah penyakit, banjir, gempa bumi, gunung meletus, kemiskinan, pembunuhan, tingginya harga barang, dan sebagainya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang dzalim, mereka akan beroleh adzab sebelum kematian mereka , akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Ath-Thur: 47)

5. Meratanya adzab pada satu kampung/daerah yang penduduknya berbuat dzalim.
Apabila kedzaliman telah tersebar di tengah masyarakat dan penduduknya melakukan perbuatan dzalim secara terang-terangan, maka bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meratakan adzab kepada mereka sehingga hampir-hampir tak ada seorang pun dari mereka yang selamat, sampaipun orang shalih yang ada di masyarakat tersebut ikut terkena adzab . Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang apa yang diperbuat-Nya kepada penduduk negeri yang dzalim:
“Dan berapa banyak penduduk negeri yang dzalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya.” (Al-Anbiya: 11)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:
“Dan jagalah diri-diri kalian dari fitnah (adzab/ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang dzalim di antara kalian secara khusus.”(Al-Anfal: 25)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullahu berkata dalam menafsirkan ayat di atas: “Bahkan adzab itu menimpa pelaku kedzaliman dan juga selainnya. Hal ini terjadi apabila kedzaliman dilakukan secara terang-terangan sementara tidak ada yang berusaha merubahnya, maka hukuman yang datang pun merata menimpa pelakunya dan selain pelakunya.

Cara menjaga diri dari fitnah ini adalah dengan melarang dari perbuatan mungkar, mematahkan/menghancurkan orang-orang jelek dan yang suka membuat kerusakan, selain itu selama memungkinkan mereka tidak membiarkan kemaksiatan dan kedzaliman mendominasi/bisa unjuk gigi.”
(Taisir Al-Karimur Rahman hal. 318)

Hukuman dan Akibat yang Diperoleh di Akhirat

Hukuman yang dipersiapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat jauh
lebih dasyhat dan mengerikan daripada adzab di dunia, sebagaimana kabar yang kita dapatkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah berikut ini:

1. Orang-orang yang dzalim tidak memiliki penolong, teman dekat dan pemberi syafaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada penolong bagi orangorang dzalim.” (QS. Ali Imran)

“Orang-orang dzalim tidak memiliki teman setia seorang pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (QS, Ghafir: 18)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan beroleh syafaatku yaitu pemimpin yang sangat dzalim lagi lalim dan setiap orang yang ghuluw yang keluar/menyimpang dari agama.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 8/337/8079, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 470)

2. Bangkrutnya orang-orang dzalim pada hari ditampakkannya amalan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya , maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 2449)

Dalam dua hadits di atas terdapat keterangan bahwa perbuatan dzalim pada hari kiamat nanti akan mengantarkan pada kebangkrutan.

3. Penyesalan orang yang dzalim pada hari kiamat.

Ketika orang yang dzalim ini melihat bukti ancaman Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada hari kiamat, ia pun menyesali dirinya namun pada hari itu penyesalan tak lagi berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Kalau seandainya setiap diri yang dzalim itu memiliki segala apa yang ada di bumi ini, niscaya dia akan menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan adzab itu. Dan telah diberikan keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya.” (QS Yunus: 54)

4. Ancaman masuk neraka bagi orang yang berbuat dzalim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang mengambil hak seorang muslim maka sungguh Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga baginya”. Ada seseorang yang bertanya: “Walaupun itu sesuatu yang remeh/sedikit wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Walaupun cuma sepotong kayu arak.” (HR. Muslim no. 351)

Abu Salamah (seorang tabi’in) mengabarkan bahwa pernah terjadi pertikaian antara dirinya dengan orang-orang dalam masalah tanah, maka diceritakannya hal itu kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Aisyah pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Salamah, lebih baik engkau jauhi tanah tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Siapa yang berbuat dzalim terhadap satu jengkal tanah maka akan ditimpakan/dipikulkan padanya tujuh lapis bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 2453 dan Muslim no. 4113)

Wallahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam bishawwab.

diringkas dari sumber aslinya : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=438

Faktor Pendorong Perbuatan Dosa

Lemahnya iman dan tidak adanya perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebabkan seseorang meremehkan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ancaman-Nya.

Baca entri selengkapnya »

Jauhilah Dosa-dosa Besar

Dosa adalah bentuk pelanggaran terhadap larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya. Dan dosa itu bertingkat-tingkat kejahatannya.

Baca entri selengkapnya »

Dosa-dosa Kecil Yang Dapat Berubah Menjadi Dosa Besar

Ketika hendak melakukan dosa, janganlah melihat kepada kecilnya dosa. Namun lihatlah, kepada siapa dia berbuat dosa? Patutkah bagi seseorang yang diciptakan dan diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sarana yang lengkap dan cukup, lantas melanggar larangan-Nya?!

Sesungguhnya suatu dosa bisa menjadi besar karena hal-hal berikut:

Baca entri selengkapnya »

Pengaruh Dosa atau Maksiat

Pengaruh dosa terhadap hati seperti bahayanya racun bagi tubuh. Dan tidak ada suatu kejelekan di dunia dan di akhirat kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat. Apakah yang menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga -tempat yang penuh kelezatan dan kenikmatan- kepada negeri yang terdapat berbagai penderitaan (dunia)?! Apa pula yang menyebabkan Iblis diusir dari kerajaan yang ada di langit serta mendapat kutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?!

Baca entri selengkapnya »